On Senin, Desember 31, 2018 by Pemuda Nabawi in Info Bisnis, Mendapat Dollar, Mendapatkan Uang dari Internet, Tips Seputar Internet No comments
Hai, Sobat blogger...
semoga kebahagiaan selalu melengkapi hari-harimu. aamiin
seperti judul yang ada nih temen-temen.
saya akan membagi info buat kamu nih, bagaimana sukses meraup uang dollar dari adf.ly
APA itu adf.ly?adf.ly itu adalah situs penyedia jasa untuk short url (memperpendek url) kamu, pernah g' sih, sobat mengirim alamat url yang panjaaaang banget, dan yang seperti itu tertulis di pamlet, artinya ketika kita mau ngunjung harus menulis satu-satu perhurufnya! capek banget kan ya..
semoga kebahagiaan selalu melengkapi hari-harimu. aamiin
seperti judul yang ada nih temen-temen.
saya akan membagi info buat kamu nih, bagaimana sukses meraup uang dollar dari adf.ly
APA itu adf.ly?adf.ly itu adalah situs penyedia jasa untuk short url (memperpendek url) kamu, pernah g' sih, sobat mengirim alamat url yang panjaaaang banget, dan yang seperti itu tertulis di pamlet, artinya ketika kita mau ngunjung harus menulis satu-satu perhurufnya! capek banget kan ya..
On Kamis, Agustus 27, 2015 by Pemuda Nabawi in Mendapatkan Uang, Mendapatkan Uang dari Internet, Tips Seputar Internet, Whaff 2 comments
Para Gamers (Game Line Corporation,Clash Of Clans,Castle Clash, Boom Beach, HayDay, Dll) Anda Bisa Mendapatkan Cash, Gems, Diamond,Voucher secara Gratis. Dan Juga Buat Kalian Untuk Mencari Penghasilan Sampingan hasil yang lumayan bukan?
WHAFF Rewards adalah Aplikasi Bisnis Online Android berbasis PPD ( pay per download ) yang artinya anda akan dibayar apabila anda mendownload aplikasi atau game yang di sarankan oleh aplikasi tersebut. Dan nanti jika sudah beberapa dollar terkumpul, nanti bisa payout ke steam wallet bisa buat beli item dota, game atau dicairkan jadi UANG, belanja online dan sebagainya GRATIS !
Caranya:
5). Selanjutnya Kumpulkan dollar lebih dengan menginstal Aplikasi atau Games yang ada di Pick Premium dan Pick whaff , maka saldo dollar kamu bertambah .
Hehehe Lumayan Buat online shop with paypal (BELANJA ONLINE) :-D
baca juga cara mencairkan uang di whaff disini
WHAFF Rewards adalah Aplikasi Bisnis Online Android berbasis PPD ( pay per download ) yang artinya anda akan dibayar apabila anda mendownload aplikasi atau game yang di sarankan oleh aplikasi tersebut. Dan nanti jika sudah beberapa dollar terkumpul, nanti bisa payout ke steam wallet bisa buat beli item dota, game atau dicairkan jadi UANG, belanja online dan sebagainya GRATIS !
Mau?
Caranya:
1). Install aplikasi "Whaff Reward" cari sendiri di HP android anda,masuk ke PLAYSTORE atau KIOS atau MOBOMARKET -> Ketik dipencarian "WHAFF Rewards"
2). Install & Buka aplikasinya
3). klik Masuk atau LOG IN, ( Ada di bagian kanan atas )
Gunakan FB kamu untuk masuk, lalu Klik OK saja trus
4). Tunggu beberapa detik sampai muncul
"ENTER INVITE CODE"
➨ Masukin Code [ BU35679 ] untuk mendapat bonus reward 0.30$ pertamamu .
Pesan : jangan sampai salah memasukan kode "BU35679 " agar mendapatkan Saldo pertama Kalau salah ya gak dapat Saldo $ 0,30 Dan sebagai saran catat dulu kodenya sebelum membuka aplikasinya. jika tidak memasukkan kode itu saya pastikan g dapat bonus $0.30
5). Selanjutnya Kumpulkan dollar lebih dengan menginstal Aplikasi atau Games yang ada di Pick Premium dan Pick whaff , maka saldo dollar kamu bertambah .
6). Setelah Dollar $ min $10.5 ada dibagian kanan atas ( $ ) itu penghasilanmu,langsung cairkan melalui PayPal atau juga bisa untuk penukaran gems COC dan diamond getrich GRATIS pilih Kartu Hadiah Google Play
Untuk dijadikan UANG Silahkan Transfer Dollar nya ke Rekening Bank Lokal,otomatis dalam (Kurs) Rupiah selama 2-4 hari kerja.(BCA,Mandiri,BNI,BRI,BII,dll)
=============================================================
==============================================================
Bukti Pembayaran DARI Whaff :
Hehehe Lumayan Buat online shop with paypal (BELANJA ONLINE) :-D
baca juga cara mencairkan uang di whaff disini
On Kamis, Agustus 27, 2015 by Pemuda Nabawi in Mendapatkan Uang, Tips Seputar Internet, Whaff No comments
Sudah Tahu aplikasi whaff Bukan ??? Aplikasi Bisnis Online Android berbasis PPD ( pay per download ) .
Nah,Sekarang admin mau menjelaskan bagaimana cara mencairkan dollar dari whaff untuk dijadikan rupiah :)
Pertama, Saldo Whaff Kalian Harus minimal $10,5 untuk dicairkan Ke Paypal ...
** Jika saldo kamu sudah cukup untuk payout, yaitu minimal $10.5. Kamu sekarang bisa melakukan checkout ke PayPal kamu. Cukup klik tombol menu atau dengan mengusap layar ke kanan, lalu klik Pembayaran.
Nah,Sekarang admin mau menjelaskan bagaimana cara mencairkan dollar dari whaff untuk dijadikan rupiah :)
Pertama, Saldo Whaff Kalian Harus minimal $10,5 untuk dicairkan Ke Paypal ...
** Jika saldo kamu sudah cukup untuk payout, yaitu minimal $10.5. Kamu sekarang bisa melakukan checkout ke PayPal kamu. Cukup klik tombol menu atau dengan mengusap layar ke kanan, lalu klik Pembayaran.
** Selanjutnya, pilih PayPal sebagai metode pembayaran kamu.
**Lalu pilih jumlah saldo yang ingin kamu tarik, dan masukan juga email PayPal kamu. Jika sudah yakin, klik tombol Permintaan
**Akan muncul konfirmasi, Klik OK untuk melanjutkan.
**Lihat riwayat pembayaran tadi;
**Jika sudah, kamu hanya perlu menunggu saldo masuk ke akun PayPal kamu. WHAFF menyebutkan proses selama 3 hari, tapi biasanya saldo sudah sampai pada hari ke-2.
Sekiranya begitu cara untuk mendapatkan dollar gratis dan cuma-cuma hanya dengan bermodalkan smartphone Android. Mungkin di antara kamu ada yang bertanya apakah ini asli atau bohongan? Jawabannya, ini adalah asli. Jaka sudah mencobanya sendiri dan terbukti membayar.
Selanjutnya Terserah Pada Anda, Dollar Untuk Berbelanja Online atau menariknya Ke Bank Anda sendiri Lewat Paypal .
On Selasa, September 16, 2014 by Pemuda Nabawi in Argumen ASWAJA, Artikel Islam, Artikel Pilihan, ASWAJA, Hadist Shahih, Ijtihad, Nasehat Bijak, SEJARAH RINGKAS PARA IMAM DAN MUHADDITSIN, Tokoh Islam No comments
Sumber: MMN:
~ Assalamu 'alaikum wr. wb. Saya tertarik dengan jawaban ustadz dalam tanya jawab sebelumnya, bahwa keshahihan suatu hadits itu ternyata hasil ijtihad. Mungkin buat saya yang awam ini, apa yang ustadz sampaikan masih agak membingungkan, jadi mohon penjelasan lebih lanjut.
Selama ini yang saya pahami bahwa kalau ada hadits shahih, kita wajib ikut. Malah teman saya bilang, tinggalkan semua pendapat ulama kalau sudah ada hadits shahih. Sebab menurutnya para ulama empat mazhab sendiri yang mengatakan bahwa kalau suatu hadits itu shahih, maka itulah mazhabku. Ternyata ustadz bilang bahwa keshahihan hadits itu sendiri justru hasil ijtihad manusia juga. Mohon penjelasan dari ustadz dalam masalah ini. Terima kasih sebelumnya.
Wassalam
Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Masalah keshahihan hadits ini memang banyak orang yang terkecoh, karena kurang mengerti dan belum memahami apa yang dimaksud dengan hadits shahih.
Banyak yang berpikir bahwa keshahihan suatu hadits itu adalah wahyu yang turun dari langit. Banyak orang awam yang belum pernah belajar ilmu hadits berimajinasi seolah-olah keshahihan hadits merupakan wangsit khusus yang diberikan kepada tokoh-tokoh tertentu secara ghaib. Seolah-olah informasi keshahihan hadits itu secara khusus Allah anugerahkan kepada sosok tertentu, rada mirip-mirip dengan sosok imam mahdi di akhir zaman.
Padahal sebenarnya 100% keshahihan hadits itu hasil ijtihad, yaitu merupakan hasil penilaian subjektif dari seorang peneliti hadits lewat analisa logis tapi tetap tidak bisa lepas dari subjektifitasnya sendiri. Oleh karena hanya sekedar ijtihad, maka apa yang dibilang shahih oleh seorang peneliti hadits, bisa saja disanggah dan ditolak oleh peneliti lain, bahkan bisa dikeluarkan hasil ijtihad lainnya yang justru bertentangan.
Imam Bukhari Berijtihad
Semua yang dituangkan Al-Bukhari (194-265 H) di dalam kitab Shahihnya adalah hasil ijtihad beliau. Jangan sekali-kali kita menduga bahwa beliau menerima wahyu dari Allah. Beliau melakukan penelitian atas tiap-tiap perawi dengan mengadakan perjalanan panjang dan jauh menelusuri berbagai pelosok negeri Islam. Seratus persen keshahihan hadits Bukhari itu dihasilkan lewat ijtihad dan bukan berdasarkan wahyu.
Tentu kita wajib menghargai dan menghormati hasil ijtihad seorang Bukhari, karena beliau memang ahli dan pakar di bidang itu. Dengan catatan, biar bagaimana pun tetap saja hasil ijtihad dan bukan wahyu.
Begitu juga hadits yang tertuang dalam kitab Shahih Muslim. Imam Muslim (204-261 H) sebagai penyusunnya tidak lain adalah seorang yang melakukan ijtihad, dalam arti penellitian ilmiyah untuk memilah mana yang beliau anggap shahih dan tidak. Pertimbangannya tanpa didasari wahyu dari langit. Hanya mengandalkan penilaian manusiawi semata.
Tentu kita wajib menghargai dan menghormati hasil ijtihad seorang Imam Muslim, karena beliau memang ahli dan pakar di bidang itu. Dengan catatan, biar bagaimana pun tetap saja hasil ijtihad dan bukan wahyu.
Tetapi menjadi keliru sekali ketika kita mengandalkan keshahihan hadits Bukhari dan Muslim sebagai satu-satunya rujukan dalam masalah agama. Mengapa? Karena selain hasil ijtihad keduanya, masih ada ribuan peneliti dan ahli hadits lain yang juga melakukan penelitian. Dan tidak sedikit yang kualitasnya malah lebih tinggi dari apa yang diijtihadkan oleh keduanya.
Penelitian Hadits Sebelum Zaman Bukhari dan Muslim
Sebagaimana kita ketahui bahwa Imam Bukhari dan Imam Muslim termasuk ulama yang hidup di abad ketiga hijriyah. Artinya, keberadaan dua kitab Shahih, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim baru muncul di abad ketiga, atau setelah 200 tahun Rasulullah SAW wafat. Yang jadi pertanyaan adalah : Lalu umat Islam yang hidup di abad pertama dan kedua, sebelum Bukhari dan Muslim lahir, menggunakan hadits apa dalam beragama?
Jawabnya mereka menggunakan semua hadits nabi juga. Tentunya bukan hadits-hadits yang dishahihkan oleh Bukhari atau Muslim, sebab Bukhari dan Muslim belum lahir. Dan hadits-hadits di masa itu juga sudah diteliti dengan baik oleh para ahli hadits di zamannya.
Sebutlah misalnya Imam Malik rahimahullah yang menyusun kitab Al-Muwaththa'. Di zamannya, kitab Al-Muwaththa' ini merupakan kitab hadits unggulan. Bahkan Al-Imam Asy-Syafi'i yang ingin belajar hadits kepada Imam Malik menghafal hadits-hadits di dalamnya.
Jadi jangan keliru beranggapan bahwa hadits shahih itu hanya hadits Bukhari dan Muslim saja. Maka tidak salah kalau kita katakan bahwa tidak ada satu pun shahabat nabi yang menggunakan hadits shahih riwayat Bukhari. Dan tidak satupun tabi'in yang menggunakannya juga. Mereka semua beragama tanpa menggunakan Shahih Bukhari dan Sahih Muslim.
Hal itu terjadi karena para shahabat dan para tabi'in hidup lebih dulu dari keduanya. Bagaimana mungkin orang yang hidup seabad sebelumnya bisa menggunakan hadits yang diriwayatkan pada abad-abad berikutnya?
Penelitian Hadits Dilakukan Oleh Empat Imam Mazhab
Para imam mazhab yang empat, Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi'i dan Ahmad bin Hanbal, sama sekali tidak pernah menggunakan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Mereka sama sekali tidak pernah menyentuh kitab Shahih Bukhari dan Muslim.
Kenapa?
Pertama, karena mereka lahir jauh sebelum Bukhari (194-265 H) dan Muslim (204-261 H) dilahirkan. Tidak mungkin mereka mengandalkan keshahihan hadits dari generasi berikutnya. Yang lebih logis adalah orang yang ada pada generasi berikutnya justru mengandalkan hasil penellitian hadits pada generasi sebelumnya.
Kedua, karena keempat imam mazhab itu sendiri justru merupakan pakar hadits paling top di zamannya. Tidak ada ahli hadits yang lebih baik dari mereka di zamannya. Apa urusannya pakar hadits paling top harus mengambil hadits dari kalangan yang lebih pantas menjadi murid atau cucu muridnya?
Ketiga, karena keempat imam mazhab itu hidup di zaman yang secara zaman lebih dekat ke Rasulullah SAW dari pada masa Bukhari atau Muslim sendiri. Maka kualitas periwayatan hadits mereka dipastikan lebih kuat dan lebih terjamin ketimbang kualitas di masa-masa berikutnya.
Kalau dalam bidang teknologi, memang semakin maju zamannya ke depan, ilmunya semakin lengkap dan sempurna. Karena penemuan yang dulu kemudian disempurnakan dengan penemuan terbaru. Sebaliknya, dalam bidang penelitian hadits, semakin mundur dan mendekati sumber aslinya, akan semakin baik.
Dan semakin menjauhi zaman aslinya tentu akan semakin lemah hasil penelitiannya. Tidak akan ada lagi penemuan baru macam teknologi komputer dalam ilmu hadits. Karena yang dilakukan adalah penelitian keshahihan hadits dan bukan kesempurnaan produk pabrik.
Keempat, justru Bukhari dan Muslim sendiri malah bermazhab kepada para imam mazhab yang empat itu. Banyak kajian ilmiyah yang memastikan bahwa Bukhari sendiri dalam fiqihnya bermazhab Syafi'i.
Memang ada sementara tokoh saking antipatinya dengan mazhab fiqih, lalu mengarang-ngarang sebuah nama mazhab imaginer baru yang tidak pernah ada bukti kongkritnya dalam sejarah. Mereka sebut mazhab 'ahli hadits'. Dari namanya saja sudah bermasalah. Dikesankan seolah-olah yang tidak bermazhab ahli hadits berarti tidak menggunakan hadits dalam mazhabnya. Padahal mazhab ahli hadits itu adalah mazhab para ulama peneliti hadits untuk mengetahui keshahihan hadits dan bukan dalam menarik kesimpulan hukum (istimbath).
Kalaulah benar pernah ada mazhab ahli hadits yang berfungsi sebagai metodologi istimbath hukum, lalu mana ushul fiqihnya? Mana kaidah-kaidah yang digunakan dalam mengistimbath hukum? Apakah cuma sekedar menggunakan sistem gugur, bila ada dua hadits, yang satu kalah shahih dengan yang lain, maka yang kalah dibuang?
Lalu bagimana kalau ada hadits sama-sama dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim, tetapi isinya bertentangan dan bertabrakan tidak bisa dipertemukan?
Al-Imam Asy-syafi'i sejak 13 abad yang lalu sudah bicara panjang lebar tentang masalah kalau ada beberapa hadits sama-sama shahihnya tetapi matannya saling bertentangan, apa yang harus kita lakukan? Beliau sudah menulis kaidah itu dalam kitabnya : Ikhtilaful Hadits yang fenomenal itu.
Cuma baru sampai mengetahui suatu hadits itu shahih, sebenarnya pekerjaan melakukan istimbath hukum belum selesai. Meneliti keshahihan hadits baru langkah pertama dari duapuluh tiga puluh langkah dalam proses istimbath hukum, yang hanya bisa dilakukan oleh para mujtahid.
Umat Terlalu Awam Dapat Informasi Diplintir
Sayangnya banyak sekali orang awam yang tersesat mendapatkan informasi yang sengaja disesatkan oleh kalangan tertentu yang punya rasa dengki. Seolah-olah imam mazhab yang empat itu kerjaannya cuma merusak agama dengan mengarang-ngarang agama dan menambah-nambahinya seenak udelnya. Sejelek itu para perusak agama melancarkan fitnah keji kepada para ulama.
Padahal keempat imam mazhab itu di zamannya justru merupakan para ulama peneliti hadits (muhaddits). Sebab syarat untuk boleh berijtihad adalah harus menguasai hadits dan mampu meneliti sendiri kualitas keshahihan haditsnya. Imam Malik itu penyusun Al-Muwaththa' yang tiga khalifah memintahnya agar dijadikan kitab standar negara. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal sendiri lebih dikenal sebagai ahli hadits ketimbang sebagai mujtahid dalam ilmu fiqih.
Entah orientalis mana yang datang menyesatkan agama, tiba-tiba datang generasi yang awam agama dan dicuci otaknya, dengan mudahnya dan teramat lancang menuduh keempat imam mazhab itu sebagai orang-orang bodoh dengan ilmu hadits. Hadits shahih versi Bukhari dibanding-bandingkan secara zahir dengan pendapat keempat mazhab, seolah-olah pendapat mazhab itu buatan manusia dan hadits shahih versi Bukhari itu datang dari Allah yang sudah pasti benar.
Orang-orang awam yang kurang ilmu itu dengan seenaknya menyelewengkan ungkapan para imam mazhab itu dari maksud aslinya : "Bila suatu hadits itu shahih, maka itulah mazhabku". Kesannya, para imam mazhab itu bodoh dengan keshahihan hadits, lalu menggantungkan mazhabnya kepada orang-orang yang hidup dua tiga abad sesudahnya.
Padahal maksudnya bukan begitu. Para ulama mazhab itu menolak suatu pendapat, karena menurut mereka hadits yang mendasarinya itu tidak shahih. Maka pendapat itu mereka tolak sambil berkata,"Kalau hadits itu shahih, pasti saya pun akan menerima pendapat itu. Tetapi berhubung hadits itu tidak shahih menurut saya, maka saya tidak menerima pendapat itu". Yang bicara bahwa hadits itu tidak shahih adalah profesor ahli hadits, yaitu para imam mazhab sendiri. Maka wajar kalau mereka menolaknya.
Tetapi lihat pengelabuhan dan penyesatan dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif. Digambarkan seolah-olah seorang Imam Asy-Syafi'i itu tokoh idiot yang tidak mampu melakukan penelitian hadits sendiri, lalu kebingungan dan menyerah menutup mukanya sambil bilang,"Saya punya mazhab tapi saya tidak tahu haditsnya shahih apa tidak, jadi kita tunggu saja nanti kalau-kalau ada orang yang ahli dalam bidang hadits. Nah, mazhab saya terserah kepada ahli hadits itu nanti ya".
Dalam hayalan mereka, para imam mazhab berubah jadi badut pandir yang tolol dan bloon. Bisanya bikin mazhab tapi tidak tahu hadits shahih. Sekedar meneliti hadits apakah shahih atau tidak, mereka tidak tahu. Dan lebih pintar orang di zaman kita sekarang, cukup masuk perpustakaan dan tiba-tiba bisa mengalahkan imam mazhab.
Cara penyesatan dan merusak Islam dari dalam degan modus seperti ini ternyata nyaris berhasil. Coba perhatikan persepsi orang-orang awam di tengah kita. Rata-rata mereka benci dengan keempat imam mazhab, karena dikesankan sebagai orang bodoh dalam hadits dan kerjaanya cuma menambah-nambahi agama.
Parahnya, setiap ada tradisi dan budaya yang sesat masuk ke dalam tubuh umat Islam, seperti percaya dukun, tahayyul, khurafat, jimat, dan berbagai aqidah sesat, sering diidentikkan dengan ajaran mazhab. Seolah mazhab fiqih itu gudangnya kesesatan dan haram kita bertaqlid kepada ulama mazhab.
Sebaliknya, orang yang harus diikuti adalah para ahli hadits, karena mereka itulah yang menjamin keshahihan hadits.
Bukhari dan Muslim Bukan Penentu Satu-satunya Keshahihan Hadits
Ini perlu dicatat karena penting sekali. Shahih tidaknya suatu hadits, bukan ditentukan oleh Bukhari dan Muslim saja. Jauh sebelum keduanya dilahirkan ke dunia, sudah ada jutaan ahli ahli hadits yang menjalankan proses ijtihad dalam menetapkan keshahihan hadits.
Dan boleh jadi kualitasnya jauh lebih baik. Kualitas keshahihannya jauh lebih murni. Hal itu karena jarak waktu dengan sumber aslinya, yaitu Rasulullah SAW, lebih dekat.
Hadits di zaman Imam Bukhari sudah cukup panjang jalur periwayatannya. Untuk satu hadits yang sama, jalur periwayatan Bukhari bisa sampai enam atau tujuh level perawi yang bersambung-sambung. Sementara jalur hadits Imam Malik cuma melewati tiga level perawi. Secara logika sederhana, kualitas keasliannya tentu berbeda antara hadits yang jalurnya tujuh level dengan yang tiga level. Lebih murni dan asli yang tiga level tentunya.
Bayangkan kalau Imam Bukhari hidup hari ini di abad 15 hijriyah, haditsnya bisa melewati 40-50 level perawi. Secara nalar kita bisa dengan mudah menebak bahwa kualitas periwayatannya jauh lebih rendah. Beda tiga sampai empat level saja sudah besar pengaruhnya, apalagi beda 50 level, tentu jauh lebih rendah.
Apalagi yang jadi ahli haditsnya bukan selevel Bukhari, tetapi sekedar mengaku-ngaku saja. Tentu kualitas haditsnya jauh lebih parah lagi. Bukhari itu melakukan perjalanan panjang dan lama ke hampir seluruh dunia Islam. Tujuannya untuk bertemu langsung para perawi hadits yang masih tersisa. Maksudnya untuk mengetahui langsung seperti apa kualitas hafalan dan kualitas keislaman mereka.
Menurunnya Kualitas Periwayatan Seiring Dengan Semakin Jauhnya Jarak
Semakin jauh jarak waktu antara sumber hadits dengan zaman penelitiannya, maka kualitasnya akan semakin menurun. Sebab jalur periwayatannya akan menjadi semakin panjang. Jumlah perawi yang harus diteliti jelas lebih banyak lagi.
Seandainya seorang dengan kualitas Imam Bukhari hidup di abad kelima, tentu nilai kualitas penelitiannya akan jauh lebih rendah dibandingkan beliau hidup di abad ketiga. Dan bila beliau hidup di abad kelima belas, sudah bisa dipastikan kualitas penelitiannya akan jauh lebih rendah, bahkan beliau malah tidak bisa melakukan apa-apa.
Karena tidak mugkin lagi melakukan penelitian langsung bertemu muka dengan para perawi. Maka keistimewaan hadits Bukhari akan anjlog total. Untungnya beliau hidup di zaman yang tepat, yaitu di masa para perawi masih hidup dan bisa diwawancarai langsung.
Maka siapapun orangnya, kalau baru hari gini melakukan penelitian tentang para perawi, kelasnya rendah sekali. Semua hasil penelitian semata-mata mengandalkan data sekunder, yaitu hanya sekedar menelliti di tingkat literatur dalam perpustakaan. Sebuah pekerjaan yang sangat mudah, karena semua mahasiswa fakultas hadits semester pertama pun bisa mengerjakannya.
Dosen hadits bisa dengan mudah mengajarkan teknik takhrij hadits kepada anak-anak muda mahasiswa usia di bawah 20 tahunan, lalu menugaskan masing-masing melakukan takhrij untuk dapat nilai. Bahkan pekerjaan seperti itu bisa dilakukan oleh orang yang sama sekali tidak pernah belajar ilmu hadits di bangku kuliah. Cukup dengan otodidak, sedikit diberi pelatihan singkat, asalkan tekun tiap hari nongkrong di perpustakaan, bisa melakukan penelitian kelas-kelas rendahan. Siapapun bisa melakukannya dengan mudah.
Apalagi zaman sekarang sudah ada ratusan software hadits. Cukup masukkan keyword saja, maka semua data bisa keluar dalam hitungan detik saja.
Kalau baru sampai disitu kok tiba-tiba merasa lebih tinggi derajatnya dari Bukhari dan Muslim, rasanya ada yang salah dalam logika. Jangankan merasa lebih tinggi, merasa selevel saja pun sudah tidak sopan.
Maka kita tidak bisa menyamakan kualitas keshahihan hadits yang diteliti di abad kelimabelas ini, dengan kualitas penelitian hadits yang dilakukan di abad ketiga zaman Bukhari dan Muslim. Nilainya jauh berbeda. Dan kualitas penelitian hadits di abad pertama dan kedua tentu jauh lebih baik lagi.
Anehnya, jarang sekali umat Islam yang bisa membedakan, mana kualitas penelitian kelas tinggi dan mana kelas rendahan. Sebab sekarang ini kita hidup di zaman serba awam dan serba tidak tahu.
Kadang-kadang umat Islam terkecoh dengan mudah dengan penampilan fisik. Asalkan ada orang pintar ceramah, kebetulan jenggotnya panjang, bajunya gamis ala arab, pakai surban melilit kepala, tangannya sibuk memutar-mutar biji tasbih, suaranya diberat-beratkan, langsung kita anggap dia adalah ulama yang tahu segala-galanya. Padahal satu pun hadits tidak dihafalnya.
Lebih lucu lagi, kalau ada tokoh yang bisa menyalah-nyalahkan ulama betulan, melancarkan kritik ini dan itu, bahkan mencaci maki dengan kata-kata kasar, maka oleh pendukungnya yang sama-sama awam dijadikan seolah-olah dia adalah utusan Allah yang turun langsung dari langit, menjadi anugerah bagi alam semesta.
Seolah-olah kebenaran milik dia semata. Orang lain yang tidak setuju dengan seleranya dianggap bodoh semua. Ulama yang tidak sejalan dengannya akan dihujani cacian makian dan sumpah serapah.
Semoga Allah SWT mengampuni kita semua. Amiin ya rabbal alamin
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
~ Assalamu 'alaikum wr. wb. Saya tertarik dengan jawaban ustadz dalam tanya jawab sebelumnya, bahwa keshahihan suatu hadits itu ternyata hasil ijtihad. Mungkin buat saya yang awam ini, apa yang ustadz sampaikan masih agak membingungkan, jadi mohon penjelasan lebih lanjut.
Selama ini yang saya pahami bahwa kalau ada hadits shahih, kita wajib ikut. Malah teman saya bilang, tinggalkan semua pendapat ulama kalau sudah ada hadits shahih. Sebab menurutnya para ulama empat mazhab sendiri yang mengatakan bahwa kalau suatu hadits itu shahih, maka itulah mazhabku. Ternyata ustadz bilang bahwa keshahihan hadits itu sendiri justru hasil ijtihad manusia juga. Mohon penjelasan dari ustadz dalam masalah ini. Terima kasih sebelumnya.
Wassalam
Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Masalah keshahihan hadits ini memang banyak orang yang terkecoh, karena kurang mengerti dan belum memahami apa yang dimaksud dengan hadits shahih.
Banyak yang berpikir bahwa keshahihan suatu hadits itu adalah wahyu yang turun dari langit. Banyak orang awam yang belum pernah belajar ilmu hadits berimajinasi seolah-olah keshahihan hadits merupakan wangsit khusus yang diberikan kepada tokoh-tokoh tertentu secara ghaib. Seolah-olah informasi keshahihan hadits itu secara khusus Allah anugerahkan kepada sosok tertentu, rada mirip-mirip dengan sosok imam mahdi di akhir zaman.
Padahal sebenarnya 100% keshahihan hadits itu hasil ijtihad, yaitu merupakan hasil penilaian subjektif dari seorang peneliti hadits lewat analisa logis tapi tetap tidak bisa lepas dari subjektifitasnya sendiri. Oleh karena hanya sekedar ijtihad, maka apa yang dibilang shahih oleh seorang peneliti hadits, bisa saja disanggah dan ditolak oleh peneliti lain, bahkan bisa dikeluarkan hasil ijtihad lainnya yang justru bertentangan.
Imam Bukhari Berijtihad
Semua yang dituangkan Al-Bukhari (194-265 H) di dalam kitab Shahihnya adalah hasil ijtihad beliau. Jangan sekali-kali kita menduga bahwa beliau menerima wahyu dari Allah. Beliau melakukan penelitian atas tiap-tiap perawi dengan mengadakan perjalanan panjang dan jauh menelusuri berbagai pelosok negeri Islam. Seratus persen keshahihan hadits Bukhari itu dihasilkan lewat ijtihad dan bukan berdasarkan wahyu.
Tentu kita wajib menghargai dan menghormati hasil ijtihad seorang Bukhari, karena beliau memang ahli dan pakar di bidang itu. Dengan catatan, biar bagaimana pun tetap saja hasil ijtihad dan bukan wahyu.
Begitu juga hadits yang tertuang dalam kitab Shahih Muslim. Imam Muslim (204-261 H) sebagai penyusunnya tidak lain adalah seorang yang melakukan ijtihad, dalam arti penellitian ilmiyah untuk memilah mana yang beliau anggap shahih dan tidak. Pertimbangannya tanpa didasari wahyu dari langit. Hanya mengandalkan penilaian manusiawi semata.
Tentu kita wajib menghargai dan menghormati hasil ijtihad seorang Imam Muslim, karena beliau memang ahli dan pakar di bidang itu. Dengan catatan, biar bagaimana pun tetap saja hasil ijtihad dan bukan wahyu.
Tetapi menjadi keliru sekali ketika kita mengandalkan keshahihan hadits Bukhari dan Muslim sebagai satu-satunya rujukan dalam masalah agama. Mengapa? Karena selain hasil ijtihad keduanya, masih ada ribuan peneliti dan ahli hadits lain yang juga melakukan penelitian. Dan tidak sedikit yang kualitasnya malah lebih tinggi dari apa yang diijtihadkan oleh keduanya.
Penelitian Hadits Sebelum Zaman Bukhari dan Muslim
Sebagaimana kita ketahui bahwa Imam Bukhari dan Imam Muslim termasuk ulama yang hidup di abad ketiga hijriyah. Artinya, keberadaan dua kitab Shahih, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim baru muncul di abad ketiga, atau setelah 200 tahun Rasulullah SAW wafat. Yang jadi pertanyaan adalah : Lalu umat Islam yang hidup di abad pertama dan kedua, sebelum Bukhari dan Muslim lahir, menggunakan hadits apa dalam beragama?
Jawabnya mereka menggunakan semua hadits nabi juga. Tentunya bukan hadits-hadits yang dishahihkan oleh Bukhari atau Muslim, sebab Bukhari dan Muslim belum lahir. Dan hadits-hadits di masa itu juga sudah diteliti dengan baik oleh para ahli hadits di zamannya.
Sebutlah misalnya Imam Malik rahimahullah yang menyusun kitab Al-Muwaththa'. Di zamannya, kitab Al-Muwaththa' ini merupakan kitab hadits unggulan. Bahkan Al-Imam Asy-Syafi'i yang ingin belajar hadits kepada Imam Malik menghafal hadits-hadits di dalamnya.
Jadi jangan keliru beranggapan bahwa hadits shahih itu hanya hadits Bukhari dan Muslim saja. Maka tidak salah kalau kita katakan bahwa tidak ada satu pun shahabat nabi yang menggunakan hadits shahih riwayat Bukhari. Dan tidak satupun tabi'in yang menggunakannya juga. Mereka semua beragama tanpa menggunakan Shahih Bukhari dan Sahih Muslim.
Hal itu terjadi karena para shahabat dan para tabi'in hidup lebih dulu dari keduanya. Bagaimana mungkin orang yang hidup seabad sebelumnya bisa menggunakan hadits yang diriwayatkan pada abad-abad berikutnya?
Penelitian Hadits Dilakukan Oleh Empat Imam Mazhab
Para imam mazhab yang empat, Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi'i dan Ahmad bin Hanbal, sama sekali tidak pernah menggunakan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Mereka sama sekali tidak pernah menyentuh kitab Shahih Bukhari dan Muslim.
Kenapa?
Pertama, karena mereka lahir jauh sebelum Bukhari (194-265 H) dan Muslim (204-261 H) dilahirkan. Tidak mungkin mereka mengandalkan keshahihan hadits dari generasi berikutnya. Yang lebih logis adalah orang yang ada pada generasi berikutnya justru mengandalkan hasil penellitian hadits pada generasi sebelumnya.
Kedua, karena keempat imam mazhab itu sendiri justru merupakan pakar hadits paling top di zamannya. Tidak ada ahli hadits yang lebih baik dari mereka di zamannya. Apa urusannya pakar hadits paling top harus mengambil hadits dari kalangan yang lebih pantas menjadi murid atau cucu muridnya?
Ketiga, karena keempat imam mazhab itu hidup di zaman yang secara zaman lebih dekat ke Rasulullah SAW dari pada masa Bukhari atau Muslim sendiri. Maka kualitas periwayatan hadits mereka dipastikan lebih kuat dan lebih terjamin ketimbang kualitas di masa-masa berikutnya.
Kalau dalam bidang teknologi, memang semakin maju zamannya ke depan, ilmunya semakin lengkap dan sempurna. Karena penemuan yang dulu kemudian disempurnakan dengan penemuan terbaru. Sebaliknya, dalam bidang penelitian hadits, semakin mundur dan mendekati sumber aslinya, akan semakin baik.
Dan semakin menjauhi zaman aslinya tentu akan semakin lemah hasil penelitiannya. Tidak akan ada lagi penemuan baru macam teknologi komputer dalam ilmu hadits. Karena yang dilakukan adalah penelitian keshahihan hadits dan bukan kesempurnaan produk pabrik.
Keempat, justru Bukhari dan Muslim sendiri malah bermazhab kepada para imam mazhab yang empat itu. Banyak kajian ilmiyah yang memastikan bahwa Bukhari sendiri dalam fiqihnya bermazhab Syafi'i.
Memang ada sementara tokoh saking antipatinya dengan mazhab fiqih, lalu mengarang-ngarang sebuah nama mazhab imaginer baru yang tidak pernah ada bukti kongkritnya dalam sejarah. Mereka sebut mazhab 'ahli hadits'. Dari namanya saja sudah bermasalah. Dikesankan seolah-olah yang tidak bermazhab ahli hadits berarti tidak menggunakan hadits dalam mazhabnya. Padahal mazhab ahli hadits itu adalah mazhab para ulama peneliti hadits untuk mengetahui keshahihan hadits dan bukan dalam menarik kesimpulan hukum (istimbath).
Kalaulah benar pernah ada mazhab ahli hadits yang berfungsi sebagai metodologi istimbath hukum, lalu mana ushul fiqihnya? Mana kaidah-kaidah yang digunakan dalam mengistimbath hukum? Apakah cuma sekedar menggunakan sistem gugur, bila ada dua hadits, yang satu kalah shahih dengan yang lain, maka yang kalah dibuang?
Lalu bagimana kalau ada hadits sama-sama dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim, tetapi isinya bertentangan dan bertabrakan tidak bisa dipertemukan?
Al-Imam Asy-syafi'i sejak 13 abad yang lalu sudah bicara panjang lebar tentang masalah kalau ada beberapa hadits sama-sama shahihnya tetapi matannya saling bertentangan, apa yang harus kita lakukan? Beliau sudah menulis kaidah itu dalam kitabnya : Ikhtilaful Hadits yang fenomenal itu.
Cuma baru sampai mengetahui suatu hadits itu shahih, sebenarnya pekerjaan melakukan istimbath hukum belum selesai. Meneliti keshahihan hadits baru langkah pertama dari duapuluh tiga puluh langkah dalam proses istimbath hukum, yang hanya bisa dilakukan oleh para mujtahid.
Umat Terlalu Awam Dapat Informasi Diplintir
Sayangnya banyak sekali orang awam yang tersesat mendapatkan informasi yang sengaja disesatkan oleh kalangan tertentu yang punya rasa dengki. Seolah-olah imam mazhab yang empat itu kerjaannya cuma merusak agama dengan mengarang-ngarang agama dan menambah-nambahinya seenak udelnya. Sejelek itu para perusak agama melancarkan fitnah keji kepada para ulama.
Padahal keempat imam mazhab itu di zamannya justru merupakan para ulama peneliti hadits (muhaddits). Sebab syarat untuk boleh berijtihad adalah harus menguasai hadits dan mampu meneliti sendiri kualitas keshahihan haditsnya. Imam Malik itu penyusun Al-Muwaththa' yang tiga khalifah memintahnya agar dijadikan kitab standar negara. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal sendiri lebih dikenal sebagai ahli hadits ketimbang sebagai mujtahid dalam ilmu fiqih.
Entah orientalis mana yang datang menyesatkan agama, tiba-tiba datang generasi yang awam agama dan dicuci otaknya, dengan mudahnya dan teramat lancang menuduh keempat imam mazhab itu sebagai orang-orang bodoh dengan ilmu hadits. Hadits shahih versi Bukhari dibanding-bandingkan secara zahir dengan pendapat keempat mazhab, seolah-olah pendapat mazhab itu buatan manusia dan hadits shahih versi Bukhari itu datang dari Allah yang sudah pasti benar.
Orang-orang awam yang kurang ilmu itu dengan seenaknya menyelewengkan ungkapan para imam mazhab itu dari maksud aslinya : "Bila suatu hadits itu shahih, maka itulah mazhabku". Kesannya, para imam mazhab itu bodoh dengan keshahihan hadits, lalu menggantungkan mazhabnya kepada orang-orang yang hidup dua tiga abad sesudahnya.
Padahal maksudnya bukan begitu. Para ulama mazhab itu menolak suatu pendapat, karena menurut mereka hadits yang mendasarinya itu tidak shahih. Maka pendapat itu mereka tolak sambil berkata,"Kalau hadits itu shahih, pasti saya pun akan menerima pendapat itu. Tetapi berhubung hadits itu tidak shahih menurut saya, maka saya tidak menerima pendapat itu". Yang bicara bahwa hadits itu tidak shahih adalah profesor ahli hadits, yaitu para imam mazhab sendiri. Maka wajar kalau mereka menolaknya.
Tetapi lihat pengelabuhan dan penyesatan dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif. Digambarkan seolah-olah seorang Imam Asy-Syafi'i itu tokoh idiot yang tidak mampu melakukan penelitian hadits sendiri, lalu kebingungan dan menyerah menutup mukanya sambil bilang,"Saya punya mazhab tapi saya tidak tahu haditsnya shahih apa tidak, jadi kita tunggu saja nanti kalau-kalau ada orang yang ahli dalam bidang hadits. Nah, mazhab saya terserah kepada ahli hadits itu nanti ya".
Dalam hayalan mereka, para imam mazhab berubah jadi badut pandir yang tolol dan bloon. Bisanya bikin mazhab tapi tidak tahu hadits shahih. Sekedar meneliti hadits apakah shahih atau tidak, mereka tidak tahu. Dan lebih pintar orang di zaman kita sekarang, cukup masuk perpustakaan dan tiba-tiba bisa mengalahkan imam mazhab.
Cara penyesatan dan merusak Islam dari dalam degan modus seperti ini ternyata nyaris berhasil. Coba perhatikan persepsi orang-orang awam di tengah kita. Rata-rata mereka benci dengan keempat imam mazhab, karena dikesankan sebagai orang bodoh dalam hadits dan kerjaanya cuma menambah-nambahi agama.
Parahnya, setiap ada tradisi dan budaya yang sesat masuk ke dalam tubuh umat Islam, seperti percaya dukun, tahayyul, khurafat, jimat, dan berbagai aqidah sesat, sering diidentikkan dengan ajaran mazhab. Seolah mazhab fiqih itu gudangnya kesesatan dan haram kita bertaqlid kepada ulama mazhab.
Sebaliknya, orang yang harus diikuti adalah para ahli hadits, karena mereka itulah yang menjamin keshahihan hadits.
Bukhari dan Muslim Bukan Penentu Satu-satunya Keshahihan Hadits
Ini perlu dicatat karena penting sekali. Shahih tidaknya suatu hadits, bukan ditentukan oleh Bukhari dan Muslim saja. Jauh sebelum keduanya dilahirkan ke dunia, sudah ada jutaan ahli ahli hadits yang menjalankan proses ijtihad dalam menetapkan keshahihan hadits.
Dan boleh jadi kualitasnya jauh lebih baik. Kualitas keshahihannya jauh lebih murni. Hal itu karena jarak waktu dengan sumber aslinya, yaitu Rasulullah SAW, lebih dekat.
Hadits di zaman Imam Bukhari sudah cukup panjang jalur periwayatannya. Untuk satu hadits yang sama, jalur periwayatan Bukhari bisa sampai enam atau tujuh level perawi yang bersambung-sambung. Sementara jalur hadits Imam Malik cuma melewati tiga level perawi. Secara logika sederhana, kualitas keasliannya tentu berbeda antara hadits yang jalurnya tujuh level dengan yang tiga level. Lebih murni dan asli yang tiga level tentunya.
Bayangkan kalau Imam Bukhari hidup hari ini di abad 15 hijriyah, haditsnya bisa melewati 40-50 level perawi. Secara nalar kita bisa dengan mudah menebak bahwa kualitas periwayatannya jauh lebih rendah. Beda tiga sampai empat level saja sudah besar pengaruhnya, apalagi beda 50 level, tentu jauh lebih rendah.
Apalagi yang jadi ahli haditsnya bukan selevel Bukhari, tetapi sekedar mengaku-ngaku saja. Tentu kualitas haditsnya jauh lebih parah lagi. Bukhari itu melakukan perjalanan panjang dan lama ke hampir seluruh dunia Islam. Tujuannya untuk bertemu langsung para perawi hadits yang masih tersisa. Maksudnya untuk mengetahui langsung seperti apa kualitas hafalan dan kualitas keislaman mereka.
Menurunnya Kualitas Periwayatan Seiring Dengan Semakin Jauhnya Jarak
Semakin jauh jarak waktu antara sumber hadits dengan zaman penelitiannya, maka kualitasnya akan semakin menurun. Sebab jalur periwayatannya akan menjadi semakin panjang. Jumlah perawi yang harus diteliti jelas lebih banyak lagi.
Seandainya seorang dengan kualitas Imam Bukhari hidup di abad kelima, tentu nilai kualitas penelitiannya akan jauh lebih rendah dibandingkan beliau hidup di abad ketiga. Dan bila beliau hidup di abad kelima belas, sudah bisa dipastikan kualitas penelitiannya akan jauh lebih rendah, bahkan beliau malah tidak bisa melakukan apa-apa.
Karena tidak mugkin lagi melakukan penelitian langsung bertemu muka dengan para perawi. Maka keistimewaan hadits Bukhari akan anjlog total. Untungnya beliau hidup di zaman yang tepat, yaitu di masa para perawi masih hidup dan bisa diwawancarai langsung.
Maka siapapun orangnya, kalau baru hari gini melakukan penelitian tentang para perawi, kelasnya rendah sekali. Semua hasil penelitian semata-mata mengandalkan data sekunder, yaitu hanya sekedar menelliti di tingkat literatur dalam perpustakaan. Sebuah pekerjaan yang sangat mudah, karena semua mahasiswa fakultas hadits semester pertama pun bisa mengerjakannya.
Dosen hadits bisa dengan mudah mengajarkan teknik takhrij hadits kepada anak-anak muda mahasiswa usia di bawah 20 tahunan, lalu menugaskan masing-masing melakukan takhrij untuk dapat nilai. Bahkan pekerjaan seperti itu bisa dilakukan oleh orang yang sama sekali tidak pernah belajar ilmu hadits di bangku kuliah. Cukup dengan otodidak, sedikit diberi pelatihan singkat, asalkan tekun tiap hari nongkrong di perpustakaan, bisa melakukan penelitian kelas-kelas rendahan. Siapapun bisa melakukannya dengan mudah.
Apalagi zaman sekarang sudah ada ratusan software hadits. Cukup masukkan keyword saja, maka semua data bisa keluar dalam hitungan detik saja.
Kalau baru sampai disitu kok tiba-tiba merasa lebih tinggi derajatnya dari Bukhari dan Muslim, rasanya ada yang salah dalam logika. Jangankan merasa lebih tinggi, merasa selevel saja pun sudah tidak sopan.
Maka kita tidak bisa menyamakan kualitas keshahihan hadits yang diteliti di abad kelimabelas ini, dengan kualitas penelitian hadits yang dilakukan di abad ketiga zaman Bukhari dan Muslim. Nilainya jauh berbeda. Dan kualitas penelitian hadits di abad pertama dan kedua tentu jauh lebih baik lagi.
Anehnya, jarang sekali umat Islam yang bisa membedakan, mana kualitas penelitian kelas tinggi dan mana kelas rendahan. Sebab sekarang ini kita hidup di zaman serba awam dan serba tidak tahu.
Kadang-kadang umat Islam terkecoh dengan mudah dengan penampilan fisik. Asalkan ada orang pintar ceramah, kebetulan jenggotnya panjang, bajunya gamis ala arab, pakai surban melilit kepala, tangannya sibuk memutar-mutar biji tasbih, suaranya diberat-beratkan, langsung kita anggap dia adalah ulama yang tahu segala-galanya. Padahal satu pun hadits tidak dihafalnya.
Lebih lucu lagi, kalau ada tokoh yang bisa menyalah-nyalahkan ulama betulan, melancarkan kritik ini dan itu, bahkan mencaci maki dengan kata-kata kasar, maka oleh pendukungnya yang sama-sama awam dijadikan seolah-olah dia adalah utusan Allah yang turun langsung dari langit, menjadi anugerah bagi alam semesta.
Seolah-olah kebenaran milik dia semata. Orang lain yang tidak setuju dengan seleranya dianggap bodoh semua. Ulama yang tidak sejalan dengannya akan dihujani cacian makian dan sumpah serapah.
Semoga Allah SWT mengampuni kita semua. Amiin ya rabbal alamin
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Oleh Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA
On Minggu, September 14, 2014 by Pemuda Nabawi in Artikel Islam, Artikel Pilihan, Berita Islam, Cara Wudhu Rasulullah, Fiqih, Habib Umar bin Hafidz, Kumpulan Sunnah Rasul, Tausiyah, Tokoh Islam, Video Pilihan, Wudhu No comments

Wudhu merupakan syarat shalat yang paling penting. Wudhu disyariatkan berdasarkan firman Allah Subhanu wa Ta’ala di dalam Al Qur’an Surat Al Maidah ayat 6, yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muak dan tangan kalian sampai siku, dan sapulah kepala kalian dan (basuh) kaki kalian sampai kedua mata kaki,” (Qur’an Surat Al Maidah: 6).
Betapa pentingya wudhu sehingga mengetahui tata cara wudhu yang benar adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim. Dengan wudhu yang baik dan benar seperti yang dicontohkan Sayyidina Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam menjadi modal awal agar segala aktivitas ibadah kita seperti ibadah shalat kita dapat bernilai baik dan diterima di sisi Allah Subahanu wa Ta’ala.
Shalat akan menjadi lebih khusu’ apabila diawali dengan wudhu yang baik dan benar. Kalau wudhu kita rusak maka shalat kita pun dapat rusak pula. Begitu pula dengan ibadah kita yang lain, akan lebih bernilai dan berharga jika diawali dengan wudhu yang baik dan benar. Untuk itulah, wudhu merupakan pintu awal yang sangat penting dan menjadi kunci utama untuk membuka kebaikan dalam aktivitas ibadah kepada Allah Subhanau wa Ta’ala.
Al Habib Umar bin Hafidz ketika berdakwah di Kenya Afrika ditanya oleh sebagian saudara kita tentang bagaimana cara paling utamanya berwudhu agar menjadi pelajaran bagi mereka dan anak-anaknya. Subhanallah, Al Habib Umar bin Hafidz seketika itu pula langsung menjawabnya dengan mencontohkan praktek berwudhu yang baik dan benar dihadapan saudara-saudara kita di Kenya. Dan alhamdulillah, tata cara wudhu yang dicontohkan Al Habib Umar bin Hafidz ini pun direkam oleh saudara kita di sana sehingga kita semua bisa menyaksikan dan menjadikannya sebagai pelajaran yang berharga dan penting.
Berikut adalah video tata cara wudhu yang baik seperti yang praktekan oleh Al Habib Umar bin Hafidz:
Sebagai tambahan, kami sertakan video Fattabiouni tentang Sunnah-Sunnah Wudhu yang diasuh oleh Al Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf dari Jeddah:
Dan tambahan lagi yang tidak kalah pentingnya, kami sertakan tutorial wudhu yang baik dan benar mengikuti Madzhab Asy-Syafi’i yang diasuh oleh Buya Yahya (Majelis Al Bahjah Cirebon). Dalam tutorial wudhu madzhab Syafi’i ini disertakan panduan praktis syarat dan rukun wudhu, hal-hal yang membatalkan wudhu, kesunahan dalam berwudhu serta do’a selesai berwudhu:
Yang tidak kalah penting pula dan ini sering dilupakan dan mungkin dianggap sepele oleh sebagian umat Islam adalah berdo’a setelah selasai berwudhu. Rasulallah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda:
“Barang siapa berwudhu lalu berkata: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ dibukakan baginya delapan pintu-pintu surga dan masuk ke dalam pintu yang ia sukai,” (HR Muslim).
Begitu pula dalam hadist yang lain:
“Barang siapa bewudhu’ dan setelah selesai dari wudhunya ia berkata: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ dibukakan baginya pintu pintu surga dan masuk ke dalam pintu yang ia sukai,” (HR at-Tirmidzi, al-Bazzar dan at-Thabrani).
Dalam hadist lainnya RasulallahShollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa berwudu lalu berdo’a: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ maka akan dicatat baginya di kertas dan dicetak sehingga tidak akan rusak hingga hari kiamat.” (HR an-Nasai’, al-Hakim dalam al-Mustadrak).
Subhanalloh, betapa indahnya do’a sesudah wudhu. Allah menjanjikan bagi siapapun yang mengamalkan do’a sesudah wudhu maka akan dibukakan baginya semua pintu surga, dan tidak hanya itu ia pun dipersilahkan untuk memasuki pintu yang mana ia sukai. Ketahuilah wahai saudaraku, kalau kita berkunjung ke rumah saudara kita dan kemudian kita dibukakan pintu rumahnya lalu dipersilahkan masuk maka sudah dipastikan kita akan masuk ke dalam rumah tersebut. Sungguh yang dijanjikan Allah Subhanau wa Ta’ala bukanlah pintu rumah biasa tapi ini pintunya surga dan kita boleh masuk lewat pintu surga mana saja yang kita sukai. Tidaklah seseorang dibukakan pintu surga dan dipersilahkan masuk melalui pintu surga yang disukainya melainkan ia pasti akan masuk ke dalam surga tersebut, surga yang penuh kenikmatan yang dijanjikan Allah Subhanu wa Ta’ala.
Do’a Sesudah Wudhu
أَشْهَدُ اَنْ لاَإِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ وَجْعَلْنَيْ مِن عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ ، سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ اَنْ لَااِلٰهَ اِلَّا اَنْتَ ، اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ
”Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci. Maha Suci Engkau ya Allah, aku memuji kepadaMu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku minta ampun dan bertobat kepadaMu”.
SUMBER: www.elhooda.net
On Rabu, Agustus 06, 2014 by Pemuda Nabawi in Argumen ASWAJA, Artikel Islam, Artikel Pilihan, ASWAJA, Bid’ah Dhalalah, Bid'ah Hasanah, Fiqih, Masalah Khilafiyah, Sunnah, Tokoh Islam No comments
Berikut ini adalah PENJELASAN PARA ULAMA TENTANG Hadits Kullu Bid’atin Dholalah : كل بدعة ضلالة , dijelaskan oleh Al Imam Al Hafidz An Nawawi dalam Syarah Muslim, Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar al ‘Asqolani dalam Fathul Bari, Al ‘Allamah Muhammad Abdur Rouf al Manawi dalam Faidhul Qodir, dan dilanjutkan penjelasannya oleh para ulama Ahlus Sunnah yang lainnya.
Al Imam Al Hafidz An Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan:
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ هَذَا عَامٌ مَخْصُوْصٌ وَالْمُرَادُ غَالِبُ الْبِدَعِ
Adapun Sabda Rosululloh shollallahualaihi wasallam; “wa kullu bid’atin dholalah“ ini adalah dalil ‘Am Makhsush (redaksi umum dengan makna terbatas), dan yang dikehendaki adalah kebanyakan bid’ah “ (Syarah muslim, vol.6, hlm. 154)
Selanjutnya beliau berkata :
وَقَدْ أَوْضَحْتُ الْمَسْأَلَةَ بِأَدِلَّتِهَا الْمَبْسُوْطَةِ فِي تَهْذِيْبِ الْأَسْمَاءِ وَالُّلغَاتِ فَإِذَا عُرِفَ مَا ذَكَرْتُهُ عُلِمَ أَنَّ الْحَدِيْثَ مِنَ الْعَامِ الْمَخْصُوْصِ وَكَذَا مَا أَشْبَهَهُ مِنَ الْأَحَادِيْثِ الْوَارِدَةِ, وَيُؤَيِّدُ مَا قُلْنَاهُ قَوْلُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي التَّرَاوِيْحِ نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ وَلَا يَمْنَعُ مِنْ كَوْنِ الْحَدِيْثِ عَامًّا مَخْصُوْصًا
Dan sungguh telah aku jelaskan masalah ini (Bid’ah) berikut dalil-dalinya yang luas dalam kitab Tahdzibul Asma Wal Lughot, ketika telah diketahui apa yang telah kusampaikan, maka sesungguhnya hadits ini adalah hadits “al ‘Am al makhsush“ (umum yang dibatasi), begitu juga dengan hadits-hadits lain yang serupa. Dan apa yang dikatakan Umar bin khotthob –rodhiyallohu ‘anhu-, dalam masalah tarowih, yakni Ni’matil Bid’ah, menguatkan pernyataanku dan sama sekali tidak mencegah dari keberadaan hadits (Kullu Bid’atin) sebagai hadits ‘Am Makhsush (dalil umum yang dibatasi). (Syarah Nawawi ala Muslim, vol.6, hlm. 155)
Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar al ‘Asqolani dalam Fathul Bari :
وَالْمُرَادُ بِقَوْلِهِ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ مَا أُحْدِثَ وَلَا دَلِيْلَ لَهُ مِنَ الشَّرْعِ بِطَرِيْقٍ خَاصٍّ وَلَا عَامٍّ
Dan yang dikehendaki dengan Hadits Kullu Bid’atin Dholalah adalah
perkara yang diadakan dan baginya tidak terdapat dalil (yang bersumber)
dari syara’, baik dengan jalan Khusus maupun dalil umum. (Fathul Bari Syarah Shohih Al Bukhori, vol. 13, hlm. 254)
Al ‘Allamah Muhammad Abdur Rouf al Manawi dalam Faidhul Qodir :
وَقَوْلُهُ – وَكُلُّ… إِلَى آخِرِهِ – عَامٌ مَخْصُوْصٌ
Dan adapun Sabda Rosul “Wa Kullu”‘ dst.. adalah ‘Am Makhsush (Faidhul Qodir syarah Al Jami’us Shoghir, vol. 2, hlm. 217, Shameela) (artikel 16)
PEMBAGIAN BID’AH
Para Ulama terutama dari kalangan Syafi’iyyah membagi bid’ah sebagai berikut:
Imam Syafi’iy dalam Manaqib As Syafi’i lil Baihaqi :
اَلمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ:مَا اُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًااَوْسُنَّةً اَوْ أثَرًا اَوْ اِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضّلالَةُ وَمَااُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَيُخَالِفُ شَيْئًامِنْ ذَالِكَ فَهَذِهِ بِدْعَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَة
Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yangmenyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau atsar atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dholalah(tersesat). Kedua,sesuatu
yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnahatau
atsar atau Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, dalam Manaqib as-Syafi’i, 1/469).
Al Imam Al Hafidz An Nawawi dalam Tahdzibul Asma wal lughot :
هِيَ أي ألْبِدْعَةُ مُنْقَسِمَةٌ إِلىَ حَسَنَةٍ وَ قَبِيْحَةٍ (تهذيب الاسماء واللغات)
Bid’ah terbagi menjadi dua ; Bid’ah Hasanah (baik) dan Bid’ah Qobihah (buruk). (Tahdzibul Asma wal lughot, vol. 3, hlm. 22)
Al Hafidz Ibnu Hajar al ‘Asqolani dalam Fathul Bari :
وَالْبِدْعَةُ أَصْلُهَا مَا أُحْدِثَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ وَتُطْلَقُ فِي الشَّرْعِ فِي مُقَابِلِ السُّنَّةِ فَتَكُوْنُ مَذْمُوْمَةً وَالتَّحْقِيْقُ أَنَّهَا إِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَحِسَنٍ فِي الشَّرْعِ فَهِيَ حَسَنَةٌ وَإِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَقْبَحٍ فِي الشَّرْعِ فَهِيَ مُسْتَقْبَحَةٌ وَإِلَّا فَهِيَ مِنْ قِسْمِ الْمُبَاحِ وَقَدْ تَنْقَسِمُ إِلَى الْأَحْكَامِ الْخَمْسَةِ
Bid’ah, makna asalnya adalah : sesuatu yang dikerjakan tanpa mengikuti contoh sebelumnya.
Dalam syara’ bid’ah diucapkan sebagai lawan sunnah, sehingga bid’ah itu
pasti tercela. Sebenarnya apabila bid’ah itu masuk dalam naungan
sesuatu yang dianggap baik menurut syara’, maka disebut bid’ah hasanah (baik). Bila masuk dalam naungan sesuatu yang dianggap buruk menurut syara’, maka disebut bid’ah mustaqbahah (tercela).
Bila tidak masuk dalam naungan keduanya, maka menjadi bagian mubah
(boleh). Dan terkadang bid’ah itu dapat dibagi menjadi lima (hukum). (Fathul Bari Syarah Shohih Al Bukhori, vol. 4, hlm. 235)
Pendapat ini disetujui pula oleh Al Imam Muhammad bin Ali as Syaukani, salah satu Ulama Syi’ah Zaidiyyah yang dikagumi kaum Wahabi, dalam kitabnya Nailul Author 3/25.
Al Imam Badruddin Al ‘Ain dalam Umdatul Qori Syarah Shohih Bukhori :
وَالْبِدْعَةُ لُغَةً كُلُّ شَيْئٍ عُمِلَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ وَشَرْعًا إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَصْلٌ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ وَهِيَ عَلَى قِسْمَيْنِ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٍ وَهِيَ الَّتِي ذَكَرْنَا وَبِدْعَةٍ حَسَنَةٍ وَهِيَ مَا رَآهُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَسَنًا وَلَا يَكُوْنُ مُخَالِفًا لِلْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ أَوِ الْأَثَرِ أَوِ الْإِجْمَاعِ وَالْمُرَادُ هُنَا اَلْبِدْعَةُ الضَّلَالَةُ
Bid’ah, secara bahasa adalah setiap sesuatu yang dikerjakan tanpa mengikuti contoh sebelumnya.
Dan dalam syara’ adalah mengadakan sesuatu yang tidak ada asal (sumber)
pada masa Rosululloh. Bid’ah terbagi menjadi dua; Bid’ah Dholalah
(sesat) yaitu apa yang telah kami jelaskan, dan Bid’ah Hasanah (baik)
yaitu apa yang dipandang ummat Islam baik dan tidak menyalahi Kitab atau Sunnah atau Atsar atau Ijma’. Dan yang dikehendaki disini adalah Bid’ah Dholalah. (Umdatul Qori Syarah Shohih Al Bukhori, vol. 8, hlm. 396)
Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Haitsami (w. 974 H) :
وَالْحَاصِلُ:أَنَّ الْبِدَعَ الْحَسَنَةَ مُتَّفَقٌ عَلَى نَدْبِهَا,وَهِيَ:مَاوَافَقَ شَيْأً مِمَّامَرَّ وَلَمْ يَلْزَمْ مِنْ فِعْلِهِ مَحْذُوْرٌ شَرْعِيٌّ,وَمِنْهَامَا هُوَفَرْضُ كِفَايَةٍ,كَتَصْنِيْفِ الْعُلُوْمِ وَنَحْوِهَامِمَّامَرَّ.
Kesimpulan : Sesungguhnya bid’ah-bid’ah hasanah adalah sesuatu yang telah disepakati atas ke-sunnahannya,
dia adalah perkara yang sesuai dengan sesuatu dari apa yang telah lewat
(al qur’an, as sunnah, ijma’, atau atsar) dan untuk mengerjakannya
tidak berkaitan dengan apa yang dicegah oleh syara’. Sebagian ada yang fardu kifayah, seperti mengarang ilmu dan semisalnya. (Fathul Mubin Syarah Arba’in, hal 223-224)
Selanjutnya beliau berkata :
وَأَنَّ الْبِدَعَ السَّيِّئَةَ – وَهِيَ:مَا خَالَفَ شَيْأً مِنْ ذَلِكَ صَرِيْحًا أَوْ إِلْتِزَامًا– قَدْ تَنْتَهِي اِلَى مَا يُوْجِبُ التَّحْرِيْمَ تَارَةً , وَالْكَرَاهَةَ أُخْرَى , وَاِلَى مَا يُظَنُّ اَنَّهُ طَاعَةٌ وَقُرْبَةٌ
Dan
sesungguhnya bid’ah-bid’ah sayyi’ah (buruk) adalah apa-apa yang
menyelisihi sesuatu dari semua (al qur’an, as sunnah, ijma’, atau atsar) baik secara langsung ataupun tidak langsung. Bid’ah macam ini kadang berujung pada perkara yang menyebabkan haram dan atau makruh, kadang pula berujung pada persangkaan bahwa ia adalah tho’at dan ibadah (mahdho). (Fathul Mubin Syarah Arba’in, hlm. 224)
As Sayyid Abdulloh bin As Siddiq Al Ghimari Al Husaini ( w. 1413 H )
وَأَنَّ الْبِدْعَةَ فِي عُرْفِ الشَّرْعِ نَوْعَانِ مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ
Dan sesungguhnya bid’ah dalam pengertian syara’ ada dua macam ; Mahmudah (terpuji) dan Madzmumah (tercela). (Itqonus Shun’ah Fi Tahqiqi Ma’nal Bid’ah)
Syaikh Taqiyyuddin Ahmad Ibnu Taymiyyah Al Harroni
وَمِنْ هُنَا يُعْرَفُ ضَلَالُ مَنْ ابْتَدَعَ طَرِيقًا أَوْ اعْتِقَادًا زَعَمَ أَنَّ الْإِيمَانَ لَا يَتِمُّ إلَّا بِهِ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّ الرَّسُولَ لَمْ يَذْكُرْهُ وَمَا خَالَفَ النُّصُوصَ فَهُوَ بِدْعَةٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ وَمَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهُ خَالَفَهَا فَقَدْ لَا يُسَمَّى بِدْعَةً قَالَ الشَّافِعِيُّ – رَحِمَهُ اللهُ – : الْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ : بِدْعَةٌ خَالَفَتْ كِتَابًا وَسُنَّةً وَإِجْمَاعًا وَأَثَرًا عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَذِهِ بِدْعَةُ ضَلَالَةٍ . وَبِدْعَةٌ لَمْ تُخَالِفْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ قَدْ تَكُونُ حَسَنَةً لِقَوْلِ عُمَرَ : نِعْمَتْ الْبِدْعَةُ هَذِهِ هَذَا الْكَلَامُ أَوْ نَحْوُهُ رَوَاهُ البيهقي بِإِسْنَادِهِ الصَّحِيحِ فِي الْمَدْخَلِ
Dari
sisni dapat diketahui kesesatan orang yang membuat-buat cara atau
keyakinan baru, dan ia berasumsi bahwa keimanan tidak akan sempurna
tanpa jalan atau keyakinan tersebut, padahal ia mengetahui bahwa
Rosululloh, tidak pernah menyebutnya. Pandangan yang menyalahi nash
adalah bid’ah berdasar-kan kesepakatan kaum Muslimin. Sedangkan
pandangan yang tidak diketahui menyalahinya, terkadang tidak dinamakan
bid’ah. As Syafi’i berkata : “ Bid’ah itu ada dua ; Bid’ah yang menyalahi al qur’an, sunnah, ijma’, dan atsar sebagian sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, maka ini disebut Bid’ah Dholalah.
Dan Bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut, ini terkadang disebut
Bid’ah Hasanah, berdasarkan perkataan Umar : “Inilah sebaik-baik
bid’ah”. Pernyataan As Syafi’i ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang sohih dalam kitab al Madkhol. (Majmu’ Fatawa Ibni Taimiyyah, vol. 20, hlm. 163)
Al Imam al Hafizh Ibnu Rojab yang bermadzhab Hanbali sebagaimana disebutkan dalam Itqonus Shun’ah:
قَالَ الْحَافِظُ اِبْنُ رَجَب فِي شَرْحِهِ: “وَالْمُرَادُ بِالْبِدْعَةِ مَا أُحْدِثَ مِمَّا لَا أَصْلَ لَهُ فِي الشَّرِيْعَةِ يَدُلُّ عَلَيْهِ، وَأَمَّا مَا كَانَ لَهُ أَصْلٌ مِنَ الشَّرْعِ يَدُلُّ عَلَيْهِ فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ شَرْعًا، وَإِنْ كَانَ بِدْعَةً لُغَةً” اهـ.
Berkata
al Hafizh Ibnu Rojab : “ Yang dikehendaki dengan bid’ah adalah perkara
yang diadakan yang sama sekali tidak memiliki asal (dalil) dalam
syari’at yang menunjukkan atas (kebolehan)nya. Adapun perkara
yang memiliki asal (dalil) dari syara’ yang menunjukkan atasnya maka ia
bukanlah bid’ah menurut syara’, meskipun bid’ah menurut bahasa.
( oleh: Ustadz Abu Hilya )
sumber : Islam-Intitute
sumber : Islam-Intitute
Langganan:
Komentar (Atom)
Search
Anda Pengunjung Ke
Popular Posts
-
Jihad saat ini bukan dengan mengangkat pedang atau senapan. Jihad di jaman ini adalah jihad ekonomi, pedang ekonomi, dan pendidikan.#jiha...
-
Assalamu'alaikum.... Saudaraku yang baik, sopan dan santun, serta pandai dan rajin menabung, hehehehehe....... temen temen tau g...
Hot Topics
Akhlak Terpuji
Al-Qur'an
Aliran Sesat
Aqidah
Argumen ASWAJA
Artikel Islam
Artikel Pilihan
ASWAJA
AYAT TASYBIH
Berhadiah Gadget
Berita Islam
Bid’ah Dhalalah
Bid'ah Hasanah
Cara Wudhu Rasulullah
DAULAH ISLAMIYYAH
Dzikir
Fiqih
Habaib
Habib Luthfi bin Yahya
Habib Umar bin Hafidz
Hadist Dhoif
Hadist Shahih
Hari Raya
HUKUM ALAT MUSIK
Hukum Dzikir Bersama
Hukum Majelis Dzikir
Ijtihad
Info Bisnis
INFO Kuis Online
ISIS
JIHAD
Keajaiban Islam
KEMATIAN
Keutamaan Ibadah
Khawarij
Kisah Inspirasi
Kontes Berhadiah 2014
Kuis Berhadiah 2014
Kultum
Kumpulan Sunnah Rasul
Lailatul Qadr
Madzhab Tafwidh Ma’a Tanzih
Madzhab Takwil
Majelis Dzikir
Masalah Khilafiyah
Media Islam
Mendapat Dollar
Mendapatkan Uang
Mendapatkan Uang dari Internet
Nasehat Bijak
Oase Iman
Puasa
Ramadhan
SEJARAH RINGKAS PARA IMAM DAN MUHADDITSIN
Seputar Sholat Jum'at
Sholat
Sholat Sunnah
Sunnah
Surga & Neraka
SYI'AH
Tausiyah
Tips Seputar Internet
Tokoh Islam
Video Pilihan
Whaff
Wirid Pilihan
Wudhu















