On Rabu, Agustus 06, 2014 by Pemuda Nabawi in Argumen ASWAJA, Artikel Islam, Artikel Pilihan, ASWAJA, Bid’ah Dhalalah, Bid'ah Hasanah, Fiqih, Masalah Khilafiyah, Sunnah, Tokoh Islam No comments
Berikut ini adalah PENJELASAN PARA ULAMA TENTANG Hadits Kullu Bid’atin Dholalah : كل بدعة ضلالة , dijelaskan oleh Al Imam Al Hafidz An Nawawi dalam Syarah Muslim, Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar al ‘Asqolani dalam Fathul Bari, Al ‘Allamah Muhammad Abdur Rouf al Manawi dalam Faidhul Qodir, dan dilanjutkan penjelasannya oleh para ulama Ahlus Sunnah yang lainnya.
Al Imam Al Hafidz An Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan:
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ هَذَا عَامٌ مَخْصُوْصٌ وَالْمُرَادُ غَالِبُ الْبِدَعِ
Adapun Sabda Rosululloh shollallahualaihi wasallam; “wa kullu bid’atin dholalah“ ini adalah dalil ‘Am Makhsush (redaksi umum dengan makna terbatas), dan yang dikehendaki adalah kebanyakan bid’ah “ (Syarah muslim, vol.6, hlm. 154)
Selanjutnya beliau berkata :
وَقَدْ أَوْضَحْتُ الْمَسْأَلَةَ بِأَدِلَّتِهَا الْمَبْسُوْطَةِ فِي تَهْذِيْبِ الْأَسْمَاءِ وَالُّلغَاتِ فَإِذَا عُرِفَ مَا ذَكَرْتُهُ عُلِمَ أَنَّ الْحَدِيْثَ مِنَ الْعَامِ الْمَخْصُوْصِ وَكَذَا مَا أَشْبَهَهُ مِنَ الْأَحَادِيْثِ الْوَارِدَةِ, وَيُؤَيِّدُ مَا قُلْنَاهُ قَوْلُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي التَّرَاوِيْحِ نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ وَلَا يَمْنَعُ مِنْ كَوْنِ الْحَدِيْثِ عَامًّا مَخْصُوْصًا
Dan sungguh telah aku jelaskan masalah ini (Bid’ah) berikut dalil-dalinya yang luas dalam kitab Tahdzibul Asma Wal Lughot, ketika telah diketahui apa yang telah kusampaikan, maka sesungguhnya hadits ini adalah hadits “al ‘Am al makhsush“ (umum yang dibatasi), begitu juga dengan hadits-hadits lain yang serupa. Dan apa yang dikatakan Umar bin khotthob –rodhiyallohu ‘anhu-, dalam masalah tarowih, yakni Ni’matil Bid’ah, menguatkan pernyataanku dan sama sekali tidak mencegah dari keberadaan hadits (Kullu Bid’atin) sebagai hadits ‘Am Makhsush (dalil umum yang dibatasi). (Syarah Nawawi ala Muslim, vol.6, hlm. 155)
Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar al ‘Asqolani dalam Fathul Bari :
وَالْمُرَادُ بِقَوْلِهِ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ مَا أُحْدِثَ وَلَا دَلِيْلَ لَهُ مِنَ الشَّرْعِ بِطَرِيْقٍ خَاصٍّ وَلَا عَامٍّ
Dan yang dikehendaki dengan Hadits Kullu Bid’atin Dholalah adalah
perkara yang diadakan dan baginya tidak terdapat dalil (yang bersumber)
dari syara’, baik dengan jalan Khusus maupun dalil umum. (Fathul Bari Syarah Shohih Al Bukhori, vol. 13, hlm. 254)
Al ‘Allamah Muhammad Abdur Rouf al Manawi dalam Faidhul Qodir :
وَقَوْلُهُ – وَكُلُّ… إِلَى آخِرِهِ – عَامٌ مَخْصُوْصٌ
Dan adapun Sabda Rosul “Wa Kullu”‘ dst.. adalah ‘Am Makhsush (Faidhul Qodir syarah Al Jami’us Shoghir, vol. 2, hlm. 217, Shameela) (artikel 16)
PEMBAGIAN BID’AH
Para Ulama terutama dari kalangan Syafi’iyyah membagi bid’ah sebagai berikut:
Imam Syafi’iy dalam Manaqib As Syafi’i lil Baihaqi :
اَلمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ:مَا اُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًااَوْسُنَّةً اَوْ أثَرًا اَوْ اِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضّلالَةُ وَمَااُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَيُخَالِفُ شَيْئًامِنْ ذَالِكَ فَهَذِهِ بِدْعَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَة
Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yangmenyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau atsar atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dholalah(tersesat). Kedua,sesuatu
yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnahatau
atsar atau Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, dalam Manaqib as-Syafi’i, 1/469).
Al Imam Al Hafidz An Nawawi dalam Tahdzibul Asma wal lughot :
هِيَ أي ألْبِدْعَةُ مُنْقَسِمَةٌ إِلىَ حَسَنَةٍ وَ قَبِيْحَةٍ (تهذيب الاسماء واللغات)
Bid’ah terbagi menjadi dua ; Bid’ah Hasanah (baik) dan Bid’ah Qobihah (buruk). (Tahdzibul Asma wal lughot, vol. 3, hlm. 22)
Al Hafidz Ibnu Hajar al ‘Asqolani dalam Fathul Bari :
وَالْبِدْعَةُ أَصْلُهَا مَا أُحْدِثَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ وَتُطْلَقُ فِي الشَّرْعِ فِي مُقَابِلِ السُّنَّةِ فَتَكُوْنُ مَذْمُوْمَةً وَالتَّحْقِيْقُ أَنَّهَا إِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَحِسَنٍ فِي الشَّرْعِ فَهِيَ حَسَنَةٌ وَإِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَقْبَحٍ فِي الشَّرْعِ فَهِيَ مُسْتَقْبَحَةٌ وَإِلَّا فَهِيَ مِنْ قِسْمِ الْمُبَاحِ وَقَدْ تَنْقَسِمُ إِلَى الْأَحْكَامِ الْخَمْسَةِ
Bid’ah, makna asalnya adalah : sesuatu yang dikerjakan tanpa mengikuti contoh sebelumnya.
Dalam syara’ bid’ah diucapkan sebagai lawan sunnah, sehingga bid’ah itu
pasti tercela. Sebenarnya apabila bid’ah itu masuk dalam naungan
sesuatu yang dianggap baik menurut syara’, maka disebut bid’ah hasanah (baik). Bila masuk dalam naungan sesuatu yang dianggap buruk menurut syara’, maka disebut bid’ah mustaqbahah (tercela).
Bila tidak masuk dalam naungan keduanya, maka menjadi bagian mubah
(boleh). Dan terkadang bid’ah itu dapat dibagi menjadi lima (hukum). (Fathul Bari Syarah Shohih Al Bukhori, vol. 4, hlm. 235)
Pendapat ini disetujui pula oleh Al Imam Muhammad bin Ali as Syaukani, salah satu Ulama Syi’ah Zaidiyyah yang dikagumi kaum Wahabi, dalam kitabnya Nailul Author 3/25.
Al Imam Badruddin Al ‘Ain dalam Umdatul Qori Syarah Shohih Bukhori :
وَالْبِدْعَةُ لُغَةً كُلُّ شَيْئٍ عُمِلَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ وَشَرْعًا إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَصْلٌ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ وَهِيَ عَلَى قِسْمَيْنِ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٍ وَهِيَ الَّتِي ذَكَرْنَا وَبِدْعَةٍ حَسَنَةٍ وَهِيَ مَا رَآهُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَسَنًا وَلَا يَكُوْنُ مُخَالِفًا لِلْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ أَوِ الْأَثَرِ أَوِ الْإِجْمَاعِ وَالْمُرَادُ هُنَا اَلْبِدْعَةُ الضَّلَالَةُ
Bid’ah, secara bahasa adalah setiap sesuatu yang dikerjakan tanpa mengikuti contoh sebelumnya.
Dan dalam syara’ adalah mengadakan sesuatu yang tidak ada asal (sumber)
pada masa Rosululloh. Bid’ah terbagi menjadi dua; Bid’ah Dholalah
(sesat) yaitu apa yang telah kami jelaskan, dan Bid’ah Hasanah (baik)
yaitu apa yang dipandang ummat Islam baik dan tidak menyalahi Kitab atau Sunnah atau Atsar atau Ijma’. Dan yang dikehendaki disini adalah Bid’ah Dholalah. (Umdatul Qori Syarah Shohih Al Bukhori, vol. 8, hlm. 396)
Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Haitsami (w. 974 H) :
وَالْحَاصِلُ:أَنَّ الْبِدَعَ الْحَسَنَةَ مُتَّفَقٌ عَلَى نَدْبِهَا,وَهِيَ:مَاوَافَقَ شَيْأً مِمَّامَرَّ وَلَمْ يَلْزَمْ مِنْ فِعْلِهِ مَحْذُوْرٌ شَرْعِيٌّ,وَمِنْهَامَا هُوَفَرْضُ كِفَايَةٍ,كَتَصْنِيْفِ الْعُلُوْمِ وَنَحْوِهَامِمَّامَرَّ.
Kesimpulan : Sesungguhnya bid’ah-bid’ah hasanah adalah sesuatu yang telah disepakati atas ke-sunnahannya,
dia adalah perkara yang sesuai dengan sesuatu dari apa yang telah lewat
(al qur’an, as sunnah, ijma’, atau atsar) dan untuk mengerjakannya
tidak berkaitan dengan apa yang dicegah oleh syara’. Sebagian ada yang fardu kifayah, seperti mengarang ilmu dan semisalnya. (Fathul Mubin Syarah Arba’in, hal 223-224)
Selanjutnya beliau berkata :
وَأَنَّ الْبِدَعَ السَّيِّئَةَ – وَهِيَ:مَا خَالَفَ شَيْأً مِنْ ذَلِكَ صَرِيْحًا أَوْ إِلْتِزَامًا– قَدْ تَنْتَهِي اِلَى مَا يُوْجِبُ التَّحْرِيْمَ تَارَةً , وَالْكَرَاهَةَ أُخْرَى , وَاِلَى مَا يُظَنُّ اَنَّهُ طَاعَةٌ وَقُرْبَةٌ
Dan
sesungguhnya bid’ah-bid’ah sayyi’ah (buruk) adalah apa-apa yang
menyelisihi sesuatu dari semua (al qur’an, as sunnah, ijma’, atau atsar) baik secara langsung ataupun tidak langsung. Bid’ah macam ini kadang berujung pada perkara yang menyebabkan haram dan atau makruh, kadang pula berujung pada persangkaan bahwa ia adalah tho’at dan ibadah (mahdho). (Fathul Mubin Syarah Arba’in, hlm. 224)
As Sayyid Abdulloh bin As Siddiq Al Ghimari Al Husaini ( w. 1413 H )
وَأَنَّ الْبِدْعَةَ فِي عُرْفِ الشَّرْعِ نَوْعَانِ مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ
Dan sesungguhnya bid’ah dalam pengertian syara’ ada dua macam ; Mahmudah (terpuji) dan Madzmumah (tercela). (Itqonus Shun’ah Fi Tahqiqi Ma’nal Bid’ah)
Syaikh Taqiyyuddin Ahmad Ibnu Taymiyyah Al Harroni
وَمِنْ هُنَا يُعْرَفُ ضَلَالُ مَنْ ابْتَدَعَ طَرِيقًا أَوْ اعْتِقَادًا زَعَمَ أَنَّ الْإِيمَانَ لَا يَتِمُّ إلَّا بِهِ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّ الرَّسُولَ لَمْ يَذْكُرْهُ وَمَا خَالَفَ النُّصُوصَ فَهُوَ بِدْعَةٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ وَمَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهُ خَالَفَهَا فَقَدْ لَا يُسَمَّى بِدْعَةً قَالَ الشَّافِعِيُّ – رَحِمَهُ اللهُ – : الْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ : بِدْعَةٌ خَالَفَتْ كِتَابًا وَسُنَّةً وَإِجْمَاعًا وَأَثَرًا عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَذِهِ بِدْعَةُ ضَلَالَةٍ . وَبِدْعَةٌ لَمْ تُخَالِفْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ قَدْ تَكُونُ حَسَنَةً لِقَوْلِ عُمَرَ : نِعْمَتْ الْبِدْعَةُ هَذِهِ هَذَا الْكَلَامُ أَوْ نَحْوُهُ رَوَاهُ البيهقي بِإِسْنَادِهِ الصَّحِيحِ فِي الْمَدْخَلِ
Dari
sisni dapat diketahui kesesatan orang yang membuat-buat cara atau
keyakinan baru, dan ia berasumsi bahwa keimanan tidak akan sempurna
tanpa jalan atau keyakinan tersebut, padahal ia mengetahui bahwa
Rosululloh, tidak pernah menyebutnya. Pandangan yang menyalahi nash
adalah bid’ah berdasar-kan kesepakatan kaum Muslimin. Sedangkan
pandangan yang tidak diketahui menyalahinya, terkadang tidak dinamakan
bid’ah. As Syafi’i berkata : “ Bid’ah itu ada dua ; Bid’ah yang menyalahi al qur’an, sunnah, ijma’, dan atsar sebagian sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, maka ini disebut Bid’ah Dholalah.
Dan Bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut, ini terkadang disebut
Bid’ah Hasanah, berdasarkan perkataan Umar : “Inilah sebaik-baik
bid’ah”. Pernyataan As Syafi’i ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang sohih dalam kitab al Madkhol. (Majmu’ Fatawa Ibni Taimiyyah, vol. 20, hlm. 163)
Al Imam al Hafizh Ibnu Rojab yang bermadzhab Hanbali sebagaimana disebutkan dalam Itqonus Shun’ah:
قَالَ الْحَافِظُ اِبْنُ رَجَب فِي شَرْحِهِ: “وَالْمُرَادُ بِالْبِدْعَةِ مَا أُحْدِثَ مِمَّا لَا أَصْلَ لَهُ فِي الشَّرِيْعَةِ يَدُلُّ عَلَيْهِ، وَأَمَّا مَا كَانَ لَهُ أَصْلٌ مِنَ الشَّرْعِ يَدُلُّ عَلَيْهِ فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ شَرْعًا، وَإِنْ كَانَ بِدْعَةً لُغَةً” اهـ.
Berkata
al Hafizh Ibnu Rojab : “ Yang dikehendaki dengan bid’ah adalah perkara
yang diadakan yang sama sekali tidak memiliki asal (dalil) dalam
syari’at yang menunjukkan atas (kebolehan)nya. Adapun perkara
yang memiliki asal (dalil) dari syara’ yang menunjukkan atasnya maka ia
bukanlah bid’ah menurut syara’, meskipun bid’ah menurut bahasa.
( oleh: Ustadz Abu Hilya )
sumber : Islam-Intitute
sumber : Islam-Intitute
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
Anda Pengunjung Ke
Popular Posts
-
Jihad saat ini bukan dengan mengangkat pedang atau senapan. Jihad di jaman ini adalah jihad ekonomi, pedang ekonomi, dan pendidikan.#jiha...
-
Assalamu'alaikum.... Saudaraku yang baik, sopan dan santun, serta pandai dan rajin menabung, hehehehehe....... temen temen tau g...
Hot Topics
Akhlak Terpuji
Al-Qur'an
Aliran Sesat
Aqidah
Argumen ASWAJA
Artikel Islam
Artikel Pilihan
ASWAJA
AYAT TASYBIH
Berhadiah Gadget
Berita Islam
Bid’ah Dhalalah
Bid'ah Hasanah
Cara Wudhu Rasulullah
DAULAH ISLAMIYYAH
Dzikir
Fiqih
Habaib
Habib Luthfi bin Yahya
Habib Umar bin Hafidz
Hadist Dhoif
Hadist Shahih
Hari Raya
HUKUM ALAT MUSIK
Hukum Dzikir Bersama
Hukum Majelis Dzikir
Ijtihad
Info Bisnis
INFO Kuis Online
ISIS
JIHAD
Keajaiban Islam
KEMATIAN
Keutamaan Ibadah
Khawarij
Kisah Inspirasi
Kontes Berhadiah 2014
Kuis Berhadiah 2014
Kultum
Kumpulan Sunnah Rasul
Lailatul Qadr
Madzhab Tafwidh Ma’a Tanzih
Madzhab Takwil
Majelis Dzikir
Masalah Khilafiyah
Media Islam
Mendapat Dollar
Mendapatkan Uang
Mendapatkan Uang dari Internet
Nasehat Bijak
Oase Iman
Puasa
Ramadhan
SEJARAH RINGKAS PARA IMAM DAN MUHADDITSIN
Seputar Sholat Jum'at
Sholat
Sholat Sunnah
Sunnah
Surga & Neraka
SYI'AH
Tausiyah
Tips Seputar Internet
Tokoh Islam
Video Pilihan
Whaff
Wirid Pilihan
Wudhu
0 comments:
Posting Komentar
KOmentar anda